Senin, November 24, 2008

no title

mengintai hati,
tak kudapatimu pasti.
tanya masih bergelung
dalam relung.
biar saja aku menepi
di sisi sepi,
ah, tak apa...
aku sudah biasa.


mengikuti jejak,
aku sedang tak berpijak.
berharap bisa terus berlari
tapi aku berhenti.
menoleh pada sayap memikat
sang malaikat.
kupinjam sayapmu,
sampai waktu hapus semu.


*untuk sang malaikat
**untuk kau yang bukan malaikat
**untuk hati yang tak mau berkompromi
***untuk pikiran yang selalu memanipulasi
****untuk satu kata, yang tak pernah kumiliki

4 komentar:

  1. bulan, sungguh2 membenciku.
    aku benci padanya!
    huh! kenapa sih dengan kita, bulan?
    kalau kau memang sudah punya langit, so what?
    .
    *ahaha, curhat ama si bulan sarannya gak okeee.*
    .
    but, bagaimanapun, thx for everything u did for me ;)

    BalasHapus
  2. Dia tak membenci siapapun.
    Bukan pula engkau membenci dirinya yang santun.

    Tak ada apa-apa dengan kalian, malam dan bulan.
    Bulan pergi bukan karena langit, tapi karena awan yang hitam menghalangi kalian.
    Tahukah kau siapa awan hitam itu ?
    Dialah hujan.

    Engkau masih memiliki bulan, karena hujan hanya pelipur kerinduan malam akan rembulan.

    =)

    BalasHapus
  3. indah puisinya tp koq no title.
    apa tuh satu kata, yang tak pernah dimiliki? hehe salam kenal

    BalasHapus
  4. @ L-H : apaan sih, Kak :P
    bulan kan milik bersama ahaha.

    @ awi : satu kata itu = cinta :D

    BalasHapus