Senin, Juni 01, 2009

Cicak di Dinding (rectoverso)

"... Lelaki itu kemudian mulai melukis, sampai lewat tengah malam, hingga tertidur lelah di lantai studio. Namun ada kelegaan luar biasa yang takkan bisa dikatakannya, melampaui kemampuan rangkum nada atau kata, surat cinta, bahkan rencana sehidup semati. Dalam studio itu, akhirnya ia mengetahui apa yang ia inginkan. Bahagia dengan satu kejujuran. Kemudian berserah dalam ketakberdayaan. Ia bahkan tidur sambil tersenyum."


Nada dan puisi datang dan pergi menghampirimu
Tiada yang mampu merengkuh arti dan isi hati

Kadang benda mati yang memenangkan
Tempat di sisimu
Atau hewan kecil yang luput dari pandanganmu

Ku berserah dalam ketakberdayaan
Berbahagia dengan satu impian
Dan satu kejujuranku

Ku ingin jadi cicak di dindingmu
Cicak di dindingmu
Hanya suara dan tatapku menemanimu

Dan ku menyadari tanganku
Tak kan mampu meraihmu
Walau ku tahu tanganmu tak kan lelah memberi

Tidurlah, tidur, buih ombakku
Percikmu abadi menyegarkanku
Namun biarlah kini...
Kuingin jadi cicak

S'perti cicak di dindingmu
Cicak di dindingmu
Melekat, menemani, membelai dinding jiwamu...

...(cicak, cicak di dinding)...

#semoga kau tak takut cicak :D
Diposting oleh tyara di 21.39.00 | 0 komentar  
Label:

pesan

Beberapa malam kemarin,
angin berhembus mengirimi
secarik pesan padaku.

Pesan buram dengan tinta
merah.
Membacanya, aku terperangah.

Ini bukan tentang aku,
ini tentang dia yang dulu.
Ah, mengapa sampai padaku?

Bagaimana cara mengatakannya
agar dia percaya
sedang kami tak miliki lagi cerita ?

Bagaimana agar dia tak terluka ?
Meski mungkin baginya
aku omong kosong tak berguna.

Sayang, sungguh...
hati-hati tikaman di belakangmu,
tak terduga, tapi siapa yang tahu ?


bdg, 1 Juni 2009
#ketika dering pagi membangunkan dari mimpi.
Diposting oleh tyara di 09.16.00 | 0 komentar  
Label:
Sabtu, Mei 30, 2009

kamu masih saja lucu.

kamu masih saja lucu,
seperti dulu.
(entah apa maksudku, tapi kurasa kamu tetap lucu)

senang menebarkan ambigu,
seperti juga aku.
(kita memang sama-sama abu-abu)

ah, kamu masih tetap lucu,
di seberang sana membaca sambil tersenyum lalu.
(mungkin itu kelu, ah, tapi nikmati saja waktu)

bandung, 30Mei2009
Diposting oleh tyara di 18.39.00 | 0 komentar  
Label: ,

untuk spionase (yah, namanya juga matamata, bisa muncul di manamana)

saia tau kamu ada, membayangi langkah saia
(dan dia)
saia tau kamu menunggu waktu yang tepat
untuk mengeruhkan suasana yang sudah keruh.
(entah apa untungnya bagimu)

saia gatau kamu siapa.
saia ngga tau kenapa kamu suka
memancing di antara keruh ini,
saia juga ngga ngerti apa untungnya buat kamu.
(eh, apa kita saling kenal??)

tapi, saia tau..
kamu akan membawa kartu As.
membuka semua dan apaapa yang seharusnya
tersembunyi.
yang, kamu.
namanya juga matamata.
muka dua.
berada hanya di pihak yang menguntungkanmu.

sudahlah, matamata.
jangan ganggu Rhaina!
*terserah kalau kamu mau ganggu dia.
bukan urusan saia.
tapi tolong, jangan mengeruhkan suasana yang terlanjur keruh!
Diposting oleh tyara di 17.16.00 | 0 komentar  
Label: ,
Jumat, Mei 29, 2009

parade puisi insomnia

Bulan Merah

kemarau ini memakan perak
yang dimiliki bulan berhari kemarin
bulan pun beriak
merah meredam gerah

tapi, Sayang...
bulan masih menciptakan bayang
jejak yang lengah dihapus kelam
diamdiam terendam

bulan merah menyaksikan dari langit
tentang sepotong cerita yang tergigit
belum habis,
tapi tidak juga mengikis.

bandung,29Mei2009. 6:20.

----------------------------------------

Terjaga

pejam mata tak mau bungkam
padahal lelah,
ingin sejenak kurebah.

mimpi tak mau menelusup
padahal kupanggil,
tapi tak sudi ia menemani gigil.

terjaga lagi menemani sunyi,
membuka mata menunggui pagi
yang menghapuskan mimpi.

ah, aku baru ingat
bukankah mimpimu ada
ketika kau sedang terjaga ?

Bandung, 29Mei2009. 6:32.

----------------------------------------

Cinta Bau Amis

tercium lagi bau manis cinta
yang kata mereka bahagia

Tidak, bukan, lain.

bagiku aromanya amis
persis mayat ikan yang menggelepar miris

Ah, kau tahu aku, Sayang!

aku belum lagi mau mencicipi
manis yang menyakitkan hati
atau menciumi bau amis
dari hati yang diiris.

Ah, kau paham aku, Sayang!

tahan langkahmu sampai situ,
sebelum ucapkan maksud hatimu
diam saja, aku tahu
tapi enggan menahu.

Maafkan aku, Sayang!

bandung, 29Mei2009. 6:45.

(bukan buat hujan ataupun jendela. buat kamu yg merasa)

--------------------------------------------------------

Sebisik Sunyi

:dengan berbisik

dapatkah sekiranya angin mengantarkan rindu
yang tertahan di ujung kalbu
jengah dan lelah menunggu,
ingin bertemu
tapi tak mampu.


dapatkah sekiranya kutaklukkan waktu
barang semenit lalu
aku ingin diantarkan pada dulu
ingin lagi menemuimu,
bosan sendiri, aku jemu.


rinduku, Tuhan...
akankah padanya Engkau sampaikan ?
sampai kapan mesti menunggu dalam semu yang menjemukan,
hatiku terlalu banyak pertanyaan
belum juga Engkau memberi jawaban.


rinduku, Tuhan...
sampai kapankah mesti kusimpan ?
terlalu beratkah permintaan,
hanya ingin menemuinya biarpun dalam impian,
aku ingin lagi menatap senyuman (nya).


sampaikan, Tuhan..
sampaikan rinduku yang tak terlukiskan
sampaikan hatiku yang sungguh merasa kehilangan,
sampaikan padanya kalau aku bahagia ketika bersamanya
sampaikan kalau aku mencintanya.

bandung, 29Mei2009. 7:00
Diposting oleh tyara di 06.37.00 | 1 komentar  
Label: ,
Selasa, Mei 26, 2009

pada sebisik sunyi

kutitipkan cinta pada sebisik sunyi
biar ia diam
hingga nanti gemuruh sendiri.
Diposting oleh tyara di 00.23.00 | 0 komentar  
Label: ,
Minggu, Mei 24, 2009

purnama di balik jendela

: untuknya

Coba sibak tirai jendelamu
tengadah sebentar ke langit sana
nikmati jenak yang dulu kamu puja
lihat purnama yang terdiam gagu.

Sebentar saja, kupinjam waktumu
untuk melihat bulan yang menyala
di langit yang masih sama
meski jika ceritanya telah menyemu.

Aku juga sedang memandanginya
ditemani seulas senyum hampa
mengulang kata "jarak" untuk kesekian kalinya
meraba "maya" untuk mengerti "nyata".

Dan (jikalau) kamu juga menatapnya
mungkin hanya diam tanpa merasa,
mungkin cuma tersenyum tanpa makna,
mungkin bagimu cuma nostalgia.

Tapi, paling tidak kamu tahu
bahwa di belahan lain bumi ini
ada yang menatap purnama setiap kali,
karena dengan begitu kurasa melihatmu.
nyata.
Diposting oleh tyara di 21.27.00 | 3 komentar  
Label: , ,
Jumat, Mei 22, 2009

Dear God.

Tuhan sayang,
semoga surat yang kukirimkan kemarin malam sudah sampai.
Meski tak pakai amplop apalagi prangko.
Meski hanya kusimpan di laci dalam kotak hijau.

Tuhan sayang,
semoga apaapa yang kutulis di sana tak membuatMU mengernyit dahi.
Meski coretancoretan itu terlalu meminta satu.
Meski kadangkadang aku juga ambigu dengan pintaku.

Tuhan sayang,
semoga sekali lagi untuk kesekian kali, KAU meminjamkan keajaiban mimpi.
Meski kataMU itu belum yang terbaik untukku.
Meski mungkin untuk ini aku harus menunda waktu.

Tuhan sayang,
berikan aku kekuatan untuk bertahan
berikan aku keberanian untuk memiliki harapan
berikan aku hanya apa yang kupintakan.

*maav, Tuhan sayang... karena terlalu banyak meminta.
Diposting oleh tyara di 23.05.00 | 0 komentar  
Label: ,

least.

least.
entah siapa yang punya ide menyebutnya begitu.
mungkin aku : gadis pengumpul kelu.
yah, Sayang...
akhirnya aku menjadi selongsong usang.

(lagilagi komputer berbayang. vertigo, kapan kamu menghilang?)

*semoga tulisan di blog saia ini (yg melulu puisi ttg ...) tidak akan masuk fatwa haram MUI. :hammer:
Diposting oleh tyara di 22.46.00 | 0 komentar  
Label: ,
Kamis, Mei 21, 2009

insomnia.

kau boleh menyuruhku pergi
tapi aku tak akan beranjak dari sini
ruang mimpi yang kurancang sendiri
biarkan sesukaku menikmati

butuh satu putaran penuh
jika kamu ingin membuatku menjauh
dan lagi aku tak semudah itu berlabuh
pada asing yang begitu rapuh

terjaga lagi menikmati sepi
mata tak dapat dipejam biar dipaksa hati
insomnia sudah merajai malam yang sendiri
menulisi sunyi dengan tinta mimpi

jangan aku dibunuh
padahal sudah mati tanpa disuruh
belum puaskah melihat darah di peluh
menunggu waktu meluluh.

#di tengah vertigo akut. layar berbayang. pikiran terbang.
Diposting oleh tyara di 22.52.00 | 0 komentar  
Label: ,
Langganan: Postingan (Atom)

Efek Rumah Kaca - Kamar Gelap

Labels