Sabtu, Mei 16, 2009

parade 100kata (janin cerpen)

1.

"Aku ingin pergi, relakan aku." tersengal sang lelaki mengatakan itu, napasnya tinggal satu-satu.

Hujan airmata dari kekasih yang mencinta bahkan tak bisa menahannya lebih lama. Malaikat sudah bersiap di sampingnya. Sedia menjemput jiwanya, mengantarkan pada keabadian untuk selamanya.

"Kabarkan padanya. Mohonkan maafnya." sambung lelaki itu dengan kata-kata yang semakin lirih saja. Kekasihnya mengangguk, tak sanggup berkata-kata. Tenggelam dalam airmata.

Sejenak sang lelaki tersenyum, untuk terakhir kalinya. Tapi, malaikat urung membawa jiwanya. Sedang tubuh sudah menjadi jasad tak bernyawa. Dan jiwa lelaki itu hanya terkatung menunggu senja. Di antara isak tangis yang mengira bahwa sang lelaki telah kembali ke haribaan-Nya.



2.

"Saya mohon, maafkan dia." perempuan itu mengiba, berlutut di hadapan wanita yang menatapnya hina.

Wanita angkuh itu menatapnya lama tanpa suara. Hanya menggeleng pasti, kemudian berkata,
"Tak akan pernah!"

Aku menatap wanita itu dengan luka. Luka yang kubawa untuknya. Luka yang sampai sekarang tak dapat dihapusnya. Luka yang dibiarkannya memborok di hatinya. Sedang perempuan itu sudah begitu mengiba, berlutut juga di hadapannya. Sekeras apa hati wanita yang dulu pernah kucintai itu? Apa luka menjadikannya batu?

"Tak akan pernah aku percaya. Kalian sama-sama durjana. Bicara kalian tipu daya!" wanita angkuh itu menahan tangisnya, berusaha tidak percaya atas berita yang baru didengarnya.



3.

Langit malam telah turun. Adzan di mesjid sudah mengalun. Aku mempercepat langkah untuk tiba di rumah. Tapi, entah kenapa selalu saja aku tertahan di ujung jalan ini. Seperti ada yang mengawasi.

Ada bisik-bisik yang bilang, ujung jalan ini berhantu. Seringkali terdengar isakan lirih jika malam berhujan seolah menyepikan waktu. Tapi, aku tak percaya hantu. Tak percaya apapun itu. Aku hanya percaya, jika di suatu malam berhujan, aku akan memimpikan dia. Pasti bertemu dia.

"Maafkan aku. Kumohon, maafkan aku." lirih suara angin seperti berbisik begitu. Aku bergidik ngeri, berdiri bulu kudukku. Kupalingkan wajah, kupercepat langkah, aku ingin tiba di rumah.


Bandung, 16 Mei 2009 @ 7.53PM
Diposting oleh tyara di 19.58.00 |  
Label: ,

3 komentar:

Langganan: Posting Komentar (Atom)

Efek Rumah Kaca - Kamar Gelap

Labels